#215: Perlukah merubah personal branding yang sudah ada?

 

Via images google by nasehatislam.com

Kang andi melihat banyak perubahan-perubahan yang terjadi di dunia blogosphere. Signifikan? Ya. Mulai yang besar-besaran seperti transitnya para blogger ke jejaring pertemanan, sampai yang kecil-kecilan seperti perubahan alur postingan dari sebuah blog yang kang andi kenal baik dan memiliki personal branding tersendiri di hati sebagai blogger.

Pertanyaan kang andi sekarang, “perlukah merubah personal branding yang sudah ada?” menurut hemat kang andi bisa perlu dan bisa juga tidak.

Namun, mengorbankan image yang sudah melekat dan sudah membesarkan nama sang empu blog mengakibatkan kekecewaan tersendiri terhadap para fans berat. resiko itu mau engga mau harus di hadapi dengan sebuah tantangan baru, yaitu memulai dari awal dan kembali mengambil simpatik para fans terdahulu.

Sedikit mengintip sebuah postingan lama dari mas Joko yang berpikir bahwa personal branding sama seperti kontes burung, kang andi kini mulai beranggapan sama. Kembali lagi kang andi bertanya dalam hati “apakah harus mengorbankan semuanya?”

Sedikit kang andi kasih contoh kecil gambarannya aja. sekalian mengintip dari pendapat mas iskandaria tentang “dual language

Misalnya begini :

Sebuah blog populer dengan bahasa indonesia yang mulai merintis dari NOL, lambat laun mulai dikenal di kampung blogosphere bahkan memiliki beberapa loyal follower. Tiba-tiba suatu hari sosoknya yang kita kenal mulai banting setir dengan alur postingan yang beda biasanya. Terkesan berubah, bahkan mulai mengunakan dual language hingga akhirnya sang loyal follower berpikir ah ternyata sama saja dengan yang lainnya. Monetise!

Kira-kira bagaimana menurut pendapat sobat-sobat blogger?

Dalam hal ini kang andi cuma sharing bukan berarti memvonis itu salah. Sebab hal itu adalah sebuah kewajaran ditambah lagi sebuah pepatah kuno mengatakan “This is my blog, so what?”

Jika kang andi boleh berpendapat mungkin jika hal itu memang perlu atau sudah saatnya manuver. Postingan lama kang andi yang udah bulukan dan jadul ini bisa jadi jalan keluarnya “single blog versus multi blog” tanpa harus mengorbankan personal branding yang ada.

“hmm…” menghitung dengan kalkulator. Beli domain 100 x harga = ngutang dulu ah :mrgreen:

Iklan

20 thoughts on “#215: Perlukah merubah personal branding yang sudah ada?

  1. Menurut saya tergantung dari tujuannya mas.
    Mengubah personal branding demi sebuah brand baru yang diharapkan dapat lebih populer and tenar boleh aja.
    Tapi ya itu, asal masih tetap ingat dengan para fans yang udah loyal.he….
    Akan tetapi kalau hanya untuk sekedar monetise blog, ga perlu mengorbankan sebuah blog yang udah dikenal and populer.
    Menurut saya blog yang udah populer cukup dijadikan pondasi aja.
    Justru kalau kita launching blog atau website baru, kita bisa mengajak folower kita untuk menjadi sumber trafik. Karena bisanya kalau mereka udah loyal dan nyaman dengan kita, apapun nanti produk yang kita siapkan pasti akan mereka ikuti juga.
    Akan tetapi pasti akan milih-milih blog yang sesuai dengan kesukaan mereka.
    He…hanya opini aja mas.

  2. Kalau dilihat dari sisi audiens – yang kita tahu persentasenya mana yg intens dan yg sambil lalu – sepertinya sah sah saja membangun personal branding baru.

    Saya pun begitu. Mungkin bagi ‘pembaca setia’ blog Indonesianer akan berfikir dan memvonis saya secara sepihak, tapi saya yakin itu hanya bersifat temporal.

    Yang pasti, membangun sebuah personal branding tak bisa terwujud dalam semalam. Butuh pondasi yang kuat, dan itu mencakup proses pembelajaran juga. Ini yg jadi masalah. Terkadang banyak feedback yg bertentangan di kala kita sedang menikmati proses tersebut.

    Dan masalah monetasi, sepertinya saya akan membahas permasalahan ini di daftar postingan blog.

    Btw, mendadak adem ya? Banyak salju! hehehe

    • Jika memang sudah kuat pendiriannya sob. engga ada masalah. kang andi mendukung saja. Mari kita lihat perkembangannya seperti apa. 🙂

      masalah salju, cuma sampai tgl 4 januari kok, sekalian memang biar adem. khan jadinya adem hatinya juga buat menerjemahkan postingan kang andi tanpa emosi :mrgreen:

    • Mas Darin, ini sekedar saran dari seorang sahabat. Boleh dipertimbangkan boleh juga tidak. Semua keputusan Mas Darin yang paling tahu mana yang terbaik.

      Saran saya mengapa tak membuat blog baru lagi aja, Mas yang self hosting sekalian khusus untuk berbisnis online. Dan Indonesianer gunakan saja sebagai Doorway pages aja ke blog yang baru itu. Mungkin itu jalan tengahnya, Mas.

      Sekali lagi ini hanya sekedar saran, Mas. Semua keputusan sepenuhnya Mas Darin yang paling tahu mana pilihan yang terbaik.

  3. Membicarakan Personal Branding di blog memang menarik. Saya pun tak memungkiri, semua orang, termasuk saya juga berusaha untuk memperbaiki citra saya secara terus menerus di dunia blog. Makanya, Personal Branding kalau saya menerjemahkan adalah lebih ke arah Continuos Improvement yang tak pernah mengenal kata berhenti.

    Saya mungkin salah satu contoh blogger kebalikan dari sekian banyak blogger pada umumnya. Awalnya saya ngeblog memang benar-benar cari duit, bahkan saya pernah bela-belain ikut sekolah online Internet Marketing, bukan hanya sekedar untuk blogging seperti sekarang ini. Blog saya yang saya buat untuk cari duit dari Google Adsense justru saya tinggalkan sekarang. Tak pernah saya update. Dan saya tak tahu berapa saldo terakhir saya di akun Google Adsense saya karena saya sudah tak pernah menengoknya lagi.

    Tentang blognya Mas Darin yang tiba-tiba ubah haluan pakai bahasa Inggris, jujur saya termasuk orang yang tidak mahir berbahasa inggris jadi tanpa disadari mungkin pengunjung model2 seperti saya ini pelan-pelan akan kesulitan untuk sekedar membaca dan meninggalkan komentar di blog Mas Darin. Kalau untuk membaca mungkin saya masih bisa translate sedikit-sedikit tapi kalau meninggalkan komentar dengan bahasa yang serupa (inggris) saya tak berani, karena terus terang saya sudah bodoh maka saya tak ingin lebih tampak bodoh lagi dengan menuliskan bahasa Inggris saya yang amat minim.

    Oh, ya terima kasih, Mas Andi untuk backlinknya. 😀

  4. Nggak masalah kalau mau ganti haluan. Asal paham efek yang ditimbulkan ya. Masalahnya, maukah kita mengabaikan pengorbanan yang selama ini kita lakukan untuk sesuatu yang belum pasti. Perjudian dalam branding itu sangat riskan, teman!

  5. Menarik sekali nih, persis yang sedang saya rasakan. Dimana blog saya memiliki beragam katagory dan harus mampu mengekplorasi bahasa sesuai katagory masing2. susah banget rasanya, dari soal dewasa, tiba2 harus beralih ke topik Kesehatan, lalu blogging, Huif2 berat..

  6. Saya tidak pernah rasanya melakukan personal branding, blog saya berubah sesuai dengan suasana hati saya :). Kalau lagi mood pasang adsense why not? Kalau ndak, ya dilepas lagi.

  7. Ya, saya pernah menulis tentang Diferensiasi dalam mengelola blog, yang sepertinya juga akan serupa jika dikaitkan tentang branding ini.

    Bukan artinya kita tidak bisa sesekali melenceng dari branding kan? Sesekali untuk intermezo juga sepertinya tidak bermasalah. Yang menjadi alasan bagi surfer/subscriber untuk kabur adalah bahasa penyampaian yang kita gunakan dalam membuat artikel, menurut saya sih begitu, hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s